~Jangan paksakan anakmu menjadi sepertimu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu~ [Ali bin Abi Thalib]

Model pembelajaran merupakan pola atau prosedur yang digunakan dalam merencanakan suatu pembelajaran. dewasa ini muncul banyak model pembelajaran dengan tujuan untuk mengembangkan pembelajaran lebih adaptif. Pembelajaran pada dasarnya merupakan proses interaksi yang terjadi antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa yang terjadi dalam suatu lingkungan tertentu untuk mencapau tujuan pembelajaran. interaksi dalam kegiatan harus ada aksi, saling keterhubungan antara satu siswa dengan yang lain serta saling timbal balik antara yang satu dengan yang lain. pada umumnya bahwa terdapat tiga pola dasar komunikasi antara guru dan siswa yaitu:

  1. Komunikasi satu arah

komunikasi satu arah merupakan pola lama yaitu model pembelajaran konvensional. Pada pola ini komunikasi yang terjadi lebih menekankan pada keaktifan guru sedangkan siswa pasif. Pola komunikasi seperti tidak dapat menghidupkan kegiatan belajar mengajar, karena pembelajaran lebih berpusat pada guru (Teacher Centered). Perlahan pola pembelajaran satu arah mulai ditinggalkan dan muncul pola komunikasi yang kedua yaitu komunikasi dua arah.Komunikasi dua arah

2. Komunikasi Dua Arah

Pada pola ini guru dan siswa memiliki peran yang sama dimana kendali tidak hanya berada pada guru tetapi juga siswa. Pola ini membangun komunikasi yang hidup antara yang satu dengan yang lain, sehingga proses social mulai terbangun dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. pola ini dapat membangun pola pikir siswa yang lebih maju. proses pembelajaran akan efektif jika komunikasi antara siswa dengan guru terjalin dengan intensif. Daya nalar siswa mulai terbuka untuk menemukan hal-hal yang inovatif.

3. Komunikasi banyak arah

komunikasi multi arah ini tidak hanya melibatkan interaksi antara guru dengan siswa namun terjalin komunikasi antara siswa dengan siswa lainnya. proses ini dapat menciptakan pembelajaran yang optimal. Sebagaimana diungkapkan pada bagian sebelumnya bahwa pada tahap ini terjadi komunikasi social antara teman sebaya atau teman kelas. Untuk saat ini bahwa komunikasi dapat dilakukan antar sekolah atau dapat juga dengan orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi. Karea saat ini tidak ada sekat jarak antara satu orang dengan orang lain sehingga memudahkan komunikasi yang intensif. Dengan didukung teknologi informasi yang semakin pesat maka proses diskusi dapat dilakukan melalui pembelajaran online, secara terbuka, dan tetap mengedepankan sopan satun dalam berkomunikasi.

Kembali ke focus model pembelajaran versi Ali bin Abi Thalib, namun sebelum membahas pola pembelajaran tersebut tidak ada salahnya kalau kita flashback kembali ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib “Jangan paksakan anakmu menjadi sepertimu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu”.Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib terdapat tiga pola pembelajaran sebagaimana terlihat pada gambar di bawah ini.

terdapat tiga pola asuh atau pola pembelajaran Ali bin Abi Thalib yaitu:

a. Anak sebagai Raja (0-7)

Pada model ini kata raja bukan berarti bahwa setiap keinginan anak harus dipenuhi. Tetapi titik tekan pada pola ini adalah memberikan perhatian penuh kepada anak karena anak di usia ini merupakan Golden Age anak-anak. Masa ini adalah masa dimana kemampuan otak anak untuk menyerap informasi sangat tinggi, masa ini juga disebut sebagai masa penting bagi anak yang tidak dapat ulang. saat ini adalah saat maksimal pembentukan sel otak yaitu sebanyak 70% dan kemampuan anak menyerap informasi masih sangat kuat. Pada masa ini sebagai orang tua haruslah berhati-hati dalam memilih teman bermain bagi anak atau pengasuh anak. Karena dewasa ini karena banyak orang tua yang memiliki kesibukan sebagai wanita kariri sehingga banyak anak-anak harus kehilangan pola asuh orang tua secara penuh sehingga dengan terpaksa mencari pengsuh anak. Pola mengasuh anak yang paling baik adalah dengan asuhan sendiri oleh orang tua. Perhatian kecil yang sederhana tetapi dengan ketulusan hati dari lubuk yang teralam pasti akan membekas pada anak tersebut.

Berikut ini beberapa hal kecil yang setiap hari kita lakukan tetapi secara tidak langsung memberikan dampak yang luar biasa bagi perkembangan psikologis anak seperti misalnya

  1. Apabila anak memanggil kita kemudian kita langsung menjawab dan menghampirinya dengan segera memberikan teladan kepada anak kita bahwa mereka pun akan mendekat ketika kita memanggilnya.
  2. Saat kita mengusap punggungnya hingga tidur, maka kelak akan menimbulkan rasa haru ketika memijat atau membelai punggu orang tua ketika sedang kelelahan atau sakit.
  3. Ketika anak nakal maka janganlah membiasakan untuk dipukul agar anak menurut. memukul atau memarahi anak pada usia ini bukanlah cara yang tepat. berikanlah kesempatan anak untuk merasakan kebahagiaan yang berkualitas dimasa kecil.

Pada masa ini berikan mainan-mainan yang edukatif untuk merangsang pekembangan sensori motorik anak dan meningkatkan kecerdasan pada anak. permainan-permainan edukatif dapat membantu anak untuk membangun kemampuan anak dalam mengenal dan menyelesaikan permasalahan. karena pada permainan anak biasanya ada mencari nama, kemudian menjodohkan, puzzle, dan sebagainya. Memanjakan anak, memberikan kasih sayang, merawat dengan baik, dan membangun kedekatan dengan anak merupakan pola mendidik yang baik. Anak akan merasa kita selalu ada bagi mereka dan tentu ha tersebut akan memberikan rasa senang, aman, serta percaya diri bagi mereka.

2. Anak sebagai Tawanan(7-14)

ketika anak sudah memasuki tahap ini, maka orang tua merubah pola mendidik dengan menekankan pada disiplin anak. Dalam sebuah hadis yang di riwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang mengatakan “Perintahlah anak-anakmu untuk shlat saat mereka telah berusia 7 tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka”. (HR. Abu Dawud). berdasarkan hadis di atas bahwa pada usia ini anak-anak harus dilatih untuk bertanggung jawab dan disiplin, maka sebagai orang tua dapat melatihnya mulai dari memisahkan tempat tidur dan mendirikan shalat lima waktu. kemudian buatlah sanksi-sanksi ketika anak melanggar, namun agar anak dapat melatih tanggung jawab, maka buatlah kesepakatan dengan anak tentang sanksi yang akan diterima apabila melanggar aturan-aturan yang sudah disepakati. Ini melatih anak untuk berdemokrasi dan mau menerima konsekuensi dari pelanggaran yang dibuat.

pada tahap ini logika anak mulai tumbuh dan berkembang, pada usia ini anak-anak mulai masuk madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar. karakter anak seusia ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dalam teori Jean Piaget tahap ini disebut tahap operasional konkret (7-14 tahun) Piaget mengungkapkan bahwa anak pada usia tersebut memiliki ciri-ciri penggunaan logika yang memadai. Pada rentan usia ini anak-anak akan memulai masa pubertas serta muncul tanda-tanda sudah baligh dengan tumbuhnya benjolan pada perempuan dan mimpi basah bagi anak laki-laki.

maka peran orang tua pada masa ini harus lebih waspada dalam mengontrol pergaulan anak. Lebih-lebih pada masa digital ini, maka pengawasan terhadap anak-anak harus lebih ditingkatkan lagi. Media social menjadi momok yang menakutkan dalam masa digital ini, karena lewat media social terjadi komunikasi yang bebas saling berkenalan, bertemu, kemudian dapat terjadi proses lanjutan, kondisi ini kadang-kadang orang tua kebobolan sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Peran aktif orang tua dalam membatasi aktifitas online anak sangat diperlukan, selain itu ketegasan orang tua dapat menjadi factor anak-anak terhindar dalam pergaulan bebas, narkoba, dan lain sebagainya

3. Anak sebagai sahabat (15-27)

pada umumnya usia aqil baligh dimulai usia 15 tahun. Maka pada fase ini orang tua tidak lagi memposisikan anak sebagai raja atau tawanan tetapi memposisikan diri sebagai sahabat dan memberikan contoh atau teladan yang baik. Pada tahap ini anak-anak terkadang sudah mulai bergelut dengan permasalahan dan kondisi ini merupakan fase menuju pendewasan bagi anak. Maka Sayyidina Ali mengungkapkan pendekatan yang periu dlakukan dalam fase ini adalah:

a. berbicara dari hati ke hati

pada fase ini sebagai orang tua perlu diberikan pemahaman bahwa selain mengalami perubahan fisik, anak juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, social, budaya, dan lingkungan, sehingga sangat mungkin anak akan mengalami masalah dalam kehidupan. maka disini perlu peran orang tua memberikan kesadaran kepada anak bahwa saat ini mereka telah mencapai aqil baligh.

b. Memberi ruang kepada anak namun tetap dalam pengawasan

Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.

c. mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar

Waktu usia 15-21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar, dengan begini kelak anak- anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan. Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini misalnya dengan memintanya membimbing adik-adiknya mengerjakan beberapa pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola keuangannya sendiri.

  • membekali anak dengan keahlian hidup

pada tahap ini anak-anak harus dibekali dengan keterampilan dalam mempersiapkan diri untuk menyongsong kehidupan selanjutnya. Dalam perspektif Islam sebagaimana yang dianjurkan oleh Umar bin Khattab untuk membekali anak kita dan anak didik kita agar menguasai olahraga berkuda, memamnah, dan memanah. Anjuran di atas apabila dikaitkan dengan perspektif masa modern saat ini, maka berkuda dapat berarti memberikan keterampilan skill of life yaitu memberikan keterampilan atau bekal hidup agar memiliki rasa percaya diri dalam kehidupan sehari-hari, memiliki jiwa kepemimpinan, dan pengendalian diri dengan baik. Berenang dapat diartikan dalam Survive of life, mendidik agar selalu bersemangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah. Sedangkan Memanah yaitu Thinking of Life yaitu mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berfikir, merencanakan masa depan, dan menentukan target hidupnya.

Anak pada usia ini adalah usia dimana anak akan cenderung memberontak.  Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan yang baik kepada anak.  Fungsinya adalah agar kita bisa meluruskan anak ketika anak berbuat kesalahan, karena kita dekat dengan anak.  Anak sudah bisa dilepas mandiri dan menjadi duta keluarga. Timbulkan rasa nyaman pada anak bahwa kita orangtua namun bisa bersikap seperti sahabat setia.  Sahabat setia yang siap mendengar segala cerita dan curahan hati anak.

Masa ini adalah masa pubertas untuk anak-anak. Jangan sampai ketika anak-anak punya masalah namun mereka cari solusi dan cari curhat ke tempat orang lain.  Didiklah anak dengan membangun persahabatan meskipun kita adalah orangtuanya, agar anak tidak merasa bahwa kita adalah orang ketiga yang tidak boleh tahu tentang permasalahan dirinya. Para orangtua juga dilarang untuk memarahi dan menghardik anak di hadapan adik-adiknya ataupun di depan kakak-kakaknya.  Maksudnya supaya harga dirinya tidak jatuh sehingga anak tidak merasa rendah diri. Jalinlah pendekatan yang baik kepada anak.

Muhammad Alwan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *